Mengenal 3 Wanita Hebat Jepara: Kartini, Ratu Kalinyamat, dan Ratu Shima
Jepara tidak hanya dikenal sebagai kota ukir yang mendunia, tetapi juga sebagai tanah lahirnya para pejuang perempuan yang mengubah sejarah Nusantara. Jejak ketangguhan mereka menciptakan warisan budaya yang tak ternilai, termasuk kekayaan Kuliner Wanita Hebat Jepara yang hingga kini menjadi identitas kebanggaan masyarakat setempat. Dari pesisir utara Jawa ini, muncul tiga sosok ikonik yakni Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan Raden Ajeng Kartini, yang masing-masing mewakili era kepemimpinan, keberanian, dan intelektualitas. Ketiganya membuktikan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam menentukan arah peradaban, baik dalam tatanan politik, militer, maupun pendidikan.
Mundur jauh ke abad ke-7, kita mengenal Ratu Shima yang memimpin Kerajaan Kalingga dengan prinsip keadilan yang sangat ketat. Berdasarkan catatan sejarah yang sering dirujuk oleh para peneliti di Balai Arkeologi, Ratu Shima dikenal sebagai pemimpin yang tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Salah satu narasi yang paling melegenda terjadi pada tahun 674 Masehi, di mana ia membuktikan kejujuran rakyatnya dengan meletakkan kantong emas di jalanan pusat kota. Ketegasan ini membuat Kalingga menjadi wilayah yang disegani di seluruh Asia Tenggara. Selain stabilitas politik, era ini juga menjadi cikal bakal berkembangnya sektor pertanian dan perdagangan yang kemudian memengaruhi ragam bahan baku dalam Kuliner Wanita Hebat Jepara yang kita kenal sekarang, seperti pemanfaatan hasil laut dan rempah yang segar.
Memasuki abad ke-16, muncul sosok Ratu Kalinyamat atau Retna Kencana, seorang penguasa Kerajaan Kalinyamat yang menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme Portugis. Sebagai seorang laksamana perempuan yang tangguh, ia pernah mengirimkan ribuan prajurit dan ratusan kapal perang untuk membantu Malaka pada tahun 1551 dan 1574. Keberaniannya diakui oleh sejarawan lintas negara, bahkan bangsa Portugis menjulukinya sebagai Rainha de Japara, senhora poderosa e rica (Ratu Jepara, wanita yang berkuasa dan kaya raya). Di sela-sela kesibukan diplomasinya di Pendopo Kabupaten Jepara kala itu, warisan budaya yang ditinggalkannya tetap lestari, termasuk tradisi jamuan makan yang kini bertransformasi menjadi Kuliner Wanita Hebat Jepara yang sering disajikan dalam festival-festival budaya tahunan setiap tanggal 10 April bertepatan dengan Hari Jadi Jepara.